Upacara 17-an Tempo Doeloe

“Upacara 17-an” sudah menjadi agenda tahunan di Keboen Kopi Karanganjar. Meski di zaman dahulu upacara ini sudah ada, namun seiring perkembangan zaman sempat absen untuk waktu yang lama. Baru di 2015 ketika saya masuk ke perusahaan, tradisi lama ini dihidupkan kembali.

Ada beberapa hal unik yang membedakan upacara 17-an di sini dengan di tempat lain. Salah satunya adalah lagu “Indonesia Raya” yang diputar adalah versi tempo doeloe, lengkap dengan suara “cempreng dan kresek-kreseknya”. Lalu pembina upacara memasuki lapangan upacara dengan menunggang kuda (sumpah demi Tuhan sambil menggebrak meja, saya tidak meniru salah satu capres, karena di sini memang ada kandang kuda dan saya suka naik kuda sejak kecil).

Karena tidak ada petugas militer atau paskibraka di sini, sudah pasti ada kesalahan-kesalahan kecil dalam pelaksanaannya. Tapi bagi saya justru itu sisi positifnya. Dengan segala keterbatasan, semua staf perusahaan punya semangat nasionalisme. Memang seharusnya Upacara 17-an itu jadi hajatan seluruh rakyat Indonesia. Jangan sampai aturan protokoler yang ketat menghalangi siapa saja untuk merayakan hari penting ini.

Di tempat kami, setiap orang yang punya kemauan bisa mendapat kesempatan. Salah satu contohnya N Indah S  tour guide di sini, kebetulan adalah staf yang ukuran tubuhnya paling mungil. Dia bilang ketika sekolah dulu impiannya adalah sebagai pengibar bendera, tapi tentu saja ia tidak lolos seleksi tim paskibraka karena fisiknya. Tapi di sini impiannya terwujud, karena sudah 2 tahun terakhir ia bertindak sebagai pembawa Sang Saka Merah Putih.

Apa lagi ya .. oh ya, meskipun Upacara 17-an di sini sederhana, tapi ga kalah sama Istana Negara soal tamu kenegaraan dari negara-negara lain. Ya, duta-duta besar yang hadir di upacara ini adalah anak-anak magang, contohnya hari ini ada yang dari Italia dan Inggris.

Bedanya kalau di Istana Negara, duta bangsa lain cukup berdiri saja ketika prosesi pengerekan bendera, kalau di sini duta-duta besar itu (dipaksa) ikut menghormat kepada bendera Merah Putih (penjajahan terselubung)    

#keboen_kopi_karanganjar
#de_karanganjar_koffieplantage

 

Blitar, 17 Agustus 2018

Wima Brahmantya

CEO PT. Harta Mulia