Manten Kopi

“Manten Kopi?”

Begitulah reaksi saya ketika salah satu staf senior memberitahukan soal upacara adat yang dilakukan setiap mengawali musim panen raya kopi.

Demikianlah, pada tahun 2015 pertama kalinya saya menyaksikan upacara adat “Manten Kopi” di Keboen Kopi Karanganjar. Selain rasa takjub melihat tradisi yang unik ini, saya juga merasa malu sebagai cucu pendiri perkebunan ini kok ya bisa baru tahu ada upacara adat seperti ini. Terus presiden-presiden sebelumnya ngapain aja? Ehh .. opo hubungane 

Naluri sejarawan saya pun tergerak untuk menyelidiki lebih jauh soal tradisi ini. Menurut penuturan para pegawai yang sudah “super-sepuh (karena usianya udah di atas 80-an)”, tradisi ini sudah ada ketika mereka pertama kalinya bekerja di perkebunan ini. Bahkan waktu itu Kakek saya belum jadi pemilik perkebunan ini. Jadi bukan Kakek saya yang mencetuskan tradisi unik ini. Entah siapa .. yang pasti juga bukan para meneer Belanda penguasa tanah ini, yang memulai upacara adat Manten Kopi ini. Ya masak ada orang Belanda komat-kamit pake bahasa Jawa sambil bakar dupa?

Seperti namanya “Manten Kopi”, memang acaranya adalah ‘menikahkan’ dua buah kopi yang sudah matang dan berwarna merah. Yang satu disebut sebagai “kopi lanang”, dan yang satu lagi disebut sebagai “kopi wedhok”. Setelah keduanya dipetik dari pohonnya, mereka akan “diijab qabulkan” dengan bacaan doa-doa berbahasa Jawa diiringi tembang langgam Jawa. Ya, karena kopi-kopi tersebut tumbuh di Jawa, pasti ga bakalan ngerti kalo dibacakan doa pake bahasa Arab atau Inggris.

Nah setelah “ijab qabul”, pada akhirnya mereka akan menjadi pasangan sah, lalu keduanya kemudian dibungkus dengan kain mori (atau “kamar pengantin”?). Setelah itu mereka akan diarak dari area perkebunan ke arah Joglo untuk diserahkan kepada Toean Tanah (sekarang sebutannya bukan “Tuan Tanah” lagi tapi “CEO”, biar lebih kekinian. Dan itu “saia”, haha). Setelah itu CEO akan menyerahkan mempelai kopi kepada Kepala Pabrik untuk kemudian diproses, sekaligus penanda bahwa musim panen raya kopi telah tiba.

Tujuan dari upacara adat Manten Kopi ini adalah sebagai rasa syukur kepada Tuhan YME, dan harapan agar panen raya ini bisa membawa berkah bagi alam semesta.

Tradisi ini unik, dan bisa jadi satu-satunya di Indonesia. Kalau di luar negeri jelas ga mungkin ada “Manten Kopi”, karena kalau ada pasti namanya adalah “Coffee Marriage”. Oleh karena itu naluri budayawan dan wisatawan saya langsung tergerak untuk mengekspos tradisi unik ini kepada dunia.

Kenapa tidak? Kalau tradisi “bandem-bandeman tomat” di Spanyol aja bisa jadi tradisi unik yang dibanjiri jutaan turis dari seluruh dunia, kenapa tradisi “Manten Kopi” ini tidak bisa? Seharusnya bisa.

Maka pada 2017 pertama kali tradisi ini diekspos oleh media massa, dan ternyata jadi berita yang cukup menarik buat media massa, baik cetak, internet, maupun TV. Silakan aja browsing “Manten Kopi”, ntar yang keluar kan tradisi kami di Keboen Kopi Karanganjar .

Harapan saya “Manten Kopi 2018” yang akan diadakan 4 hari ke depan (7 Juli 2018) bisa dieskpos lebih luas lagi, dengan harapan kelak bisa menjadi ikon tradisi yang unik bagi Blitar, bahkan Indonesia dalam perspektif budaya dan pariwisata internasional.

Lalu sering ada pertanyaan ke saya, “mas, membedakan kopi lanang sama kopi wedhok itu gimana?”

Mm … begini mas. Kalo kopi wedhok itu memang kalo diperhatikan bentuknya memang mirip sama “barangnya wong wedhok”. Beneran.

“Lha kalo kopi lanang?”

Nah, untungnya kopi lanange ora mirip sama “barangnya wong lanang”.

.. Iso-iso ora kolu ngopi aku ..

* Foto diambil dari Notullanews.com

#keboen_kopi_karanganjar
#de_karanganjar_koffieplantage

Blitar, 5 Juli 2018
Wima Brahmantya
CEO PT. Harta Mulia
Share this post:
IndonesiaEnglish